Lewati ke isi

Modul 67 dari 68Sirah, bagian 3 dari 4

Isra’ Mi’raj dan Pelajarannya

الإسراء والمعراج

Peristiwa Isra’ Mi’raj menurut dalil yang shahih, diwajibkannya shalat lima waktu, dan sikap terhadap perayaannya.

Rujukan utama: Al-Isra’ wal Mi’raj, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani; Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi; Zad Al-Ma’ad, Ibnul Qayyim; Ar-Rahiq Al-Makhtum, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Tujuan belajar

Peserta mengimani peristiwa Isra’ Mi’raj sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits yang shahih, memahami pelajarannya terutama kedudukan shalat, dan bersikap benar terhadap penetapan tanggal serta perayaannya.

Poin materi

  • Pengertian. Isra’ adalah diperjalankannya Nabi ﷺ pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Mi’raj adalah diangkatnya beliau ke langit. Peristiwa ini disebutkan dalam QS. Al-Isra’: 1 dan diriwayatkan secara mutawatir oleh banyak sahabat.
  • Dengan ruh dan jasad, dalam keadaan sadar. Ini pendapat mayoritas ulama. Dalilnya: kata “Subhana” dipakai untuk perkara yang agung; kata “‘abd” (hamba) mencakup ruh dan jasad; beliau mengendarai Buraq; dan kaum Quraisy segera mendustakannya, padahal tidak ada yang mengingkari sebuah mimpi. Pendapat yang dinukil dari ‘Aisyah dan Mu’awiyah bahwa beliau diperjalankan dengan ruhnya tidak sama dengan menganggapnya mimpi.
  • Waktunya. Isra’ terjadi sekali, di Makkah, setelah kenabian. Sebagian ulama menyebut setahun sebelum hijrah (dinukil dari Ibnu ‘Abdil Barr). Adapun bulan dan tanggalnya tidak ada dalil yang tegas; para ulama berselisih apakah di bulan Rajab atau bulan lain. Abu Syamah menukil bahwa para pakar kritik perawi menyatakan klaim terjadinya di bulan Rajab adalah kedustaan.
  • Perjalanan malam itu. Beliau mengendarai Buraq ditemani Jibril, singgah di Baitul Maqdis dan shalat mengimami para nabi, lalu naik ke langit. Jibril meminta dibukakan pintu setiap langit, dan beliau bertemu para nabi, di antaranya Adam di langit dunia.
  • Bertemu Musa, ‘Isa, dan Ibrahim. Nabi ﷺ menyebutkan ciri-ciri mereka dan bahwa beliau adalah keturunan Ibrahim yang paling mirip dengannya. Beliau ditawari susu dan khamr, lalu memilih susu, dan dikatakan bahwa beliau telah memilih fitrah (HR. Muslim no. 168).
  • Pesan Nabi Ibrahim. Ibrahim berpesan agar umat Nabi Muhammad ﷺ memperbanyak tanaman surga, yaitu “La hawla wa la quwwata illa billah” (HR. Ahmad). Sanadnya lemah, tetapi Syaikh Al-Albani menilai isinya shahih karena banyak penguat. Kalimat ini bukan ritual khusus malam Isra’.
  • Diwajibkannya shalat. Di atas langit ketujuh Allah mewajibkan shalat lima puluh waktu, lalu Nabi ﷺ terus memohon keringanan hingga menjadi lima waktu, tetapi pahalanya tetap lima puluh, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.
  • Sikap orang beriman. Ketika kabar ini sampai, Abu Bakar berkata, “Jika ia mengatakannya, maka ia benar,” karena ia telah membenarkan berita langit yang lebih jauh dari itu. Sebagian orang yang lemah imannya justru murtad.
  • Menjawab syubhat. QS. Al-Isra’: 93 tidak menafikan Mi’raj; ayat itu menjawab tuntutan kaum musyrik yang membangkang. Adapun “ru’ya” dalam QS. Al-Isra’: 60 ditafsirkan Ibnu ‘Abbas sebagai penglihatan mata yang diperlihatkan pada malam Isra’ (HR. Al-Bukhari).
  • Tentang perayaannya. Nabi ﷺ dan para sahabat tidak pernah merayakan malam Isra’ Mi’raj atau mengkhususkannya dengan ibadah. Ibnu Taimiyah menyatakan tidak ada ulama yang menjadikan malam Isra’ lebih utama dari malam lainnya, dan menggolongkan perayaan seperti itu sebagai bid’ah. Karena tanggalnya pun tidak pasti, cara memuliakan peristiwa ini adalah mengimaninya dan menjaga shalat (lihat Cek Amalan: Perayaan malam Isra’ Mi’raj).

Dalil pokok

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

QS. Al-Isra’: 1

فَأُتِيتُ بِإِنَاءَيْنِ فِى أَحَدِهِمَا لَبَنٌ وَفِى الآخَرِ خَمْرٌ فَقِيلَ لِى خُذْ أَيَّهُمَا شِئْتَ. فَأَخَذْتُ اللَّبَنَ فَشَرِبْتُهُ . فَقَالَ هُدِيتَ الْفِطْرَةَ أَوْ أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ غَوَتْ أُمَّتُكَ

“Lalu aku diberi dua wadah, salah satunya berisi susu dan yang lain berisi khamr. Dikatakan kepadaku, ‘Ambillah mana yang engkau suka.’ Aku pun mengambil susu lalu meminumnya. Maka dikatakan, ‘Engkau telah diberi petunjuk kepada fitrah. Seandainya engkau mengambil khamr, niscaya umatmu tersesat.’”

HR. Muslim no. 168

Kesalahan yang sering terjadi

  • Memastikan Isra’ Mi’raj terjadi pada 27 Rajab. Tidak ada dalil yang tegas tentang bulan dan tanggalnya.
  • Mengkhususkan malam tersebut dengan perayaan atau ibadah tertentu. Hal ini tidak dikerjakan oleh Nabi ﷺ dan para sahabat.
  • Menganggap Isra’ Mi’raj sekadar mimpi atau khurafat. Peristiwa ini benar terjadi dengan ruh dan jasad, dan riwayatnya mutawatir.
  • Mengambil kisah Isra’ Mi’raj dari riwayat yang tidak shahih. Hadits-hadits yang shahih tentangnya telah dihimpun para ulama, di antaranya oleh Syaikh Al-Albani.

Rujukan

  • Al-Isra’ wal Mi’raj, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  • Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi.
  • Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, tafsir awal surat Al-Isra’.
  • Zad Al-Ma’ad, Ibnul Qayyim; Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah.

Sumber rangkuman

Pertanyaan pemahaman

Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.

  1. Apa perbedaan Isra’ dan Mi’raj?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Isra’ adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan Mi’raj adalah naiknya beliau ke langit.

  2. Apakah Isra’ Mi’raj terjadi dengan ruh saja atau dengan jasad?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Menurut mayoritas ulama dengan ruh dan jasad dalam keadaan sadar.

  3. Ibadah apa yang diwajibkan pada peristiwa Mi’raj?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Shalat lima waktu, yang awalnya lima puluh lalu diringankan menjadi lima dengan pahala lima puluh.

  4. Apakah tanggal 27 Rajab pasti tanggal Isra’ Mi’raj?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Tidak, tidak ada dalil tegas tentang bulan dan tanggalnya dan para ulama berselisih.

Bagikan ke WhatsApp

Tanya tentang modul ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “isra miraj” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.