Lewati ke isi

Modul 50 dari 68

Adab Berdoa

آداب الدعاء

Adab-adab berdoa, waktu-waktu yang mustajab, dan kedudukan doa sebagai sebab terwujudnya takdir.

Rujukan utama: Aadaab Islaamiyyah, Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman As-Suhaibani; Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan; Ad-Da’ wad Dawa’, Ibnul Qayyim

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Tujuan belajar

Peserta mampu berdoa dengan adab yang diajarkan Nabi ﷺ, mengenal waktu-waktu yang mustajab, dan memahami bahwa doa tetap bermanfaat walaupun takdir telah tertulis.

Poin materi

  • Doa hanya kepada Allah. Doa adalah ibadah, sehingga hanya ditujukan kepada Allah, tanpa meminta kepada mayit atau perantara yang terlarang (lihat bab Tawassul yang Disyariatkan dan yang Terlarang).
  • Memuji Allah dan bershalawat sebelum meminta. Nabi ﷺ mendengar seseorang berdoa dalam shalat tanpa memuji Allah dan tanpa bershalawat, lalu bersabda, “Orang ini tergesa-gesa,” dan mengajarkan urutan: memuji Allah, bershalawat, lalu berdoa. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa dalam shalat, urutan ini tempatnya pada tasyahud akhir. Di luar shalat, adab yang sama tetap berlaku.
  • Yakin dan berbaik sangka kepada Allah. Allah dekat dan mengabulkan doa (QS. Al-Baqarah: 186). Nabi ﷺ memerintahkan berdoa dalam keadaan yakin akan dikabulkan, karena orang yang ragu tidak akan bersungguh-sungguh.
  • Mengakui dosa. Allah kagum kepada hamba yang mengakui kezalimannya dan memohon ampun, karena ia tahu memiliki Rabb yang mengampuni dan menghukum (HR. Al-Hakim; dishahihkan Syaikh Al-Albani).
  • Bersungguh-sungguh dalam meminta. Jangan berdoa “Ya Allah, kabulkanlah jika Engkau mau”, karena tidak ada yang dapat memaksa Allah.
  • Mengulang permohonan. Bila berdoa, Nabi ﷺ biasa mengulanginya tiga kali (HR. Al-Bukhari no. 240 dan Muslim no. 1794). Adapun riwayat ‘Aisyah tentang mantel yang dicuri, yang kadang dibawakan dalam bab ini, dinilai dha’if oleh Syaikh Al-Albani.
  • Memilih doa yang ringkas dan padat makna. Nabi ﷺ menyukai doa-doa yang singkat tetapi luas maknanya (HR. Abu Dawud no. 1482), misalnya “Allahumma inni a’udzu bika min syarri ma ‘amiltu wa min syarri ma lam a’mal” (HR. Muslim no. 2716). Doa yang ada riwayatnya lebih utama daripada susunan bersajak yang dibuat-buat.
  • Mendahulukan diri sendiri. Ketika mendoakan orang lain, Nabi ﷺ biasanya memulai dengan dirinya sendiri (HR. At-Tirmidzi no. 3385), seperti doa dalam QS. Al-Hasyr: 10 dan QS. Ibrahim: 41. Namun ini bukan keharusan; beliau juga pernah mendoakan orang lain saja.
  • Waktu-waktu mustajab. Di antaranya sepertiga malam terakhir (HR. Al-Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758), antara adzan dan iqamah (HR. Abu Dawud no. 521 dan At-Tirmidzi no. 212), ketika sujud (HR. Muslim no. 482), ketika turun hujan, hari Arafah, saat terakhir hari Jumat setelah Ashar menurut pendapat yang dikuatkan Ibnul Qayyim, dan malam Lailatul Qadar dengan doa “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (HR. At-Tirmidzi no. 3513).
  • Doa dalam tasyahud akhir. Setelah tasyahud dan shalawat, seseorang boleh berdoa dengan doa yang ia kehendaki untuk dunia dan akhirat, dan yang paling utama adalah doa yang ada riwayatnya.
  • Doa dan takdir. Sebagian orang meninggalkan doa dengan alasan “kalau sudah ditakdirkan pasti terjadi”. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa takdir terwujud melalui sebab-sebab, dan doa termasuk sebab yang paling kuat, sebagaimana kenyang ditakdirkan melalui makan. ‘Umar bin Al-Khaththab berkata bahwa yang ia pentingkan adalah doanya, karena bila seseorang berdoa, pengabulan menyertainya.

Dalil pokok

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

QS. Al-Baqarah: 186

إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, hendaklah ia memulai dengan memuji Rabbnya dan menyanjung-Nya, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ, kemudian berdoa dengan apa yang ia kehendaki.”

HR. Abu Dawud no. 1481 dan At-Tirmidzi no. 3477

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan.”

HR. At-Tirmidzi no. 3479; dihasankan Syaikh Al-Albani

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلاَيَقُوْلَنَّ اللّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta, dan jangan sekali-kali berkata, ‘Ya Allah, jika Engkau mau, berilah aku,’ karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.”

HR. Al-Bukhari no. 6338 dan Muslim no. 2678

أََقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَ هُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.”

HR. Muslim no. 482

Kesalahan yang sering terjadi

  • Langsung meminta tanpa memuji Allah dan bershalawat. Nabi ﷺ menyebut cara ini tergesa-gesa.
  • Berdoa dengan ragu atau menggantungkan pada kehendak Allah, seperti “jika Engkau mau”.
  • Meninggalkan doa karena merasa takdir sudah pasti. Doa justru termasuk sebab yang Allah tetapkan.
  • Meminta kepada penghuni kubur atau wali yang telah wafat. Ini bukan adab berdoa, melainkan penyimpangan dalam ibadah (lihat Cek Amalan).

Rujukan

  • Aadaab Islaamiyyah (Adab Harian Muslim Teladan), Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman As-Suhaibani.
  • Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram, Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.
  • Ad-Da’ wad Dawa’, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.
  • Jalaa’ Al-Afham, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

Sumber rangkuman

Pertanyaan pemahaman

Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.

  1. Mengapa Nabi ﷺ menyebut seseorang “tergesa-gesa” dalam berdoa?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Karena ia langsung meminta tanpa memuji Allah dan bershalawat terlebih dahulu.

  2. Bolehkah berdoa “Ya Allah, ampuni aku jika Engkau mau”?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Tidak, hendaknya bersungguh-sungguh meminta karena tidak ada yang dapat memaksa Allah (HR. Al-Bukhari no. 6338 dan Muslim no. 2678).

  3. Sebutkan tiga waktu mustajab untuk berdoa.

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Sepertiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, dan ketika sujud.

  4. Apakah doa masih bermanfaat bila takdir sudah tertulis?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Ya, karena doa termasuk sebab yang paling kuat untuk terwujudnya apa yang Allah takdirkan.

Bagikan ke WhatsApp

Tanya tentang modul ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “adab berdoa” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.