Modul 51 dari 68
Hak tetangga, menyambung silaturahim dengan keluarga yang berbeda pemahaman, serta adab menuntut ilmu dan berdakwah.
Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.
Tujuan belajar
Peserta memahami bahwa tauhid dan sunnah tampak dalam akhlak sehari-hari: memuliakan tetangga, menyambung silaturahim (termasuk kepada keluarga yang berbeda pemahaman), serta beradab ketika menuntut ilmu dan berdakwah.
Poin materi
Hak tetangga
- Disebut bersama perintah tauhid. Dalam QS. An-Nisa’: 36, perintah beribadah hanya kepada Allah diikuti perintah berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, serta tetangga dekat dan tetangga jauh.
- Tanda iman. Nabi ﷺ menjadikan memuliakan tetangga sebagai bagian dari iman kepada Allah dan hari akhir. Wujudnya antara lain berkata baik, tidak mengganggu, berbagi makanan, dan menolong ketika mereka tertimpa musibah.
- Tetangga non-Muslim. Menurut Dewan Fatwa, bila tetangga non-Muslim meninggal, seorang Muslim boleh datang menghibur keluarganya dan memberi bantuan berupa makanan atau harta. Yang tidak boleh adalah memohonkan ampunan dan rahmat bagi mayit yang wafat dalam kesyirikan (QS. At-Taubah: 113).
Silaturahim
- Sebab keberkahan. Menyambung silaturahim termasuk sebab dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umur, sedangkan memutusnya termasuk dosa besar. Bentuk silaturahim yang paling mulia adalah berbakti kepada orang tua, karena merekalah kerabat terdekat (lihat bab Berbakti kepada Orang Tua).
- Kepada keluarga yang masih mengamalkan bid’ah. Dewan Fatwa menasihatkan agar tetap menyambung silaturahim dengan berkunjung, memberi hadiah, dan menjaga komunikasi, supaya dakwah lebih mudah diterima. Menjauh, enggan menyapa, atau bermuka masam justru memperburuk keadaan.
- Teladan Nabi ﷺ. Beliau berdakwah kepada kerabatnya sendiri. Sebagian menolak, seperti Abu Lahab yang mengikuti beliau dari belakang sambil mencela. Tidak dinukil bahwa beliau membalas dengan keburukan; beliau bersabar, tetap menghormati kerabat, dan melanjutkan dakwah dengan akhlak mulia, disertai doa.
Adab menuntut ilmu
- Bertanya kepada ahlinya. Allah memerintahkan bertanya kepada orang yang berilmu (QS. An-Nahl: 43). Ulama dihormati karena ilmu tentang wahyu yang mereka ajarkan, tetapi mereka tidak maksum; bila terjadi perselisihan, rujukannya Al-Qur’an dan Sunnah.
- Pelajaran dari Nabi Musa dan Khidhir. Nabi Musa menempuh perjalanan jauh untuk menambah ilmu, meminta izin dengan lembut, dan menampakkan kebutuhannya kepada guru. Orang yang lebih utama pun tetap belajar dari yang lebih ahli dalam bidang tertentu.
- Sabar dan tidak tergesa-gesa. Orang yang tidak sabar menyertai guru akan kehilangan banyak ilmu. Penuntut ilmu hendaknya tidak buru-buru menilai sebelum memahami maksud sebuah perkara.
- Ikhlas dan mengamalkan. Niatkan belajar karena Allah. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membimbing kepada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan, lalu diamalkan.
- Belajar melalui media. Mendengarkan kajian dari televisi atau media lain termasuk menuntut ilmu dan insya Allah berpahala; semakin dijaga adabnya, semakin besar manfaatnya (Dewan Fatwa). Pilihlah pengajar yang jelas ilmunya.
Adab berdakwah
- Berdakwah dengan hikmah, sabar, dan bertahap, dimulai dari perkara yang paling penting, yaitu tauhid (lihat bab Menasihati Keluarga dan Masyarakat dengan Hikmah).
Dalil pokok
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki.” (QS. An-Nisa’: 36)
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.”
هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu sebagai petunjuk bagiku?”
Kesalahan yang sering terjadi
- Memutus hubungan atau bermuka masam kepada keluarga karena mereka masih mengerjakan amalan yang tidak ada tuntunannya. Tetaplah menyambung silaturahim sambil menasihati dengan lembut.
- Menganggap tetangga non-Muslim tidak punya hak, atau sebaliknya ikut memohonkan ampunan bagi yang wafat dalam kekafiran.
- Merasa lebih pintar dari guru atau membantah sebelum memahami penjelasannya.
- Mengambil ilmu agama dari sembarang sumber tanpa memeriksa kapasitas pengajarnya.
Rujukan
- Al-Adab Al-Mufrad, Imam Al-Bukhari.
- Miftah Dar As-Sa’adah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.
- Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, bab adab.
- Fatwa Dewan Fatwa tentang menyikapi keluarga, tetangga non-Muslim, dan kajian melalui media.
Sumber rangkuman
- Bagaimana Cara Menyikapi Keluarga yang Masih Melakukan Amalan Bid’ah?, Dewan Fatwa
- Bolehkah Membantu dan Memberi Sumbangan Saat Tetangga Non-Muslim Meninggal?, Dewan Fatwa
- Hukum Mendengarkan Kajian Dari Media TV, Dewan Fatwa
- Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Pelajaran Besar tentang Ilmu, Sabar, dan Takdir, Rumaysho.com
- Adab Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama, Rumaysho.com
- Berbakti Kepada Orang Tua, Almanhaj.or.id
Pertanyaan pemahaman
Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.
-
Siapa saja yang disebut dalam perintah berbuat baik pada QS. An-Nisa’: 36 selain orang tua?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Di antaranya karib kerabat, anak yatim, orang miskin, serta tetangga dekat dan tetangga jauh.
-
Bagaimana sikap kepada keluarga yang masih mengerjakan amalan bid’ah?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Tetap menyambung silaturahim dengan berkunjung, memberi hadiah, dan menjaga komunikasi, sambil mendoakan dan menasihati dengan lembut.
-
Bolehkah membantu keluarga tetangga non-Muslim yang meninggal?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Boleh menghibur dan memberi bantuan, tetapi tidak boleh memohonkan ampunan bagi mayitnya.
-
Adab apa yang dicontohkan Nabi Musa ketika ingin belajar kepada Khidhir?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Meminta izin dengan lembut, rendah hati, dan bertekad untuk sabar.
Tanya tentang modul ini
AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.
Bacaan lanjutan
- Kepribadian Ganda Almanhaj.or.id
- Bijak Menghargai Perbedaan Pendapat Rumaysho.com
- Hadirilah Tabligh Akbar , Grand Launching Aplikasi Bekalhaji dan Manasik Firanda.com
- “TAHLILAN MAKRUH TIDAK HARAM” Firanda.com
Cari pembahasan lain tentang “akhlak” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.