Lewati ke isi

Modul 52 dari 68

Berbakti kepada Orang Tua

بر الوالدين

Kedudukan birrul walidain, bentuk bakti semasa hidup dan setelah wafat, serta batas ketaatan kepada orang tua.

Rujukan utama: Al-Adab Al-Mufrad, Imam Al-Bukhari; Adh-Dhiya’ Al-Lami’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin; Birr Al-Walidain, Syaikh Amin bin ‘Abdullah Asy-Syaqawi; Fatawa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Tujuan belajar

Peserta memahami kedudukan berbakti kepada orang tua yang disandingkan dengan tauhid, mampu mewujudkannya dalam ucapan, perbuatan, dan harta, mengetahui batas ketaatan kepada orang tua, serta cara berbakti setelah mereka wafat.

Poin materi

  • Disandingkan dengan tauhid. Perintah berbuat baik kepada orang tua disebut langsung setelah perintah beribadah hanya kepada Allah (QS. Al-Isra’: 23, QS. An-Nisa’: 36, QS. Al-An’am: 151). Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hak orang tua adalah hak manusia yang paling besar setelah hak Allah dan Rasul-Nya.
  • Amal yang dicintai Allah. Ketika ditanya amal yang paling dicintai Allah, Nabi ﷺ menyebut shalat pada waktunya, kemudian berbakti kepada orang tua, kemudian jihad (HR. Al-Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85). Kepada orang yang meminta izin berjihad, beliau bersabda, “Pada keduanyalah engkau berjihad” (HR. Al-Bukhari no. 3004 dan Muslim no. 2549).
  • Jalan ke surga. Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah (HR. At-Tirmidzi no. 1900). Merugilah orang yang mendapati orang tuanya lanjut usia tetapi tidak masuk surga karenanya (HR. Muslim no. 2551). Ridha Allah ada pada ridha orang tua (HR. At-Tirmidzi no. 1899).
  • Ibu lebih didahulukan. Nabi ﷺ menyebut ibu tiga kali sebelum ayah. Imam An-Nawawi menjelaskan sebabnya: kepayahan ibu ketika mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik (QS. Luqman: 14).
  • Saat mereka lanjut usia. Jangan berkata “ah”, jangan membentak, ucapkan perkataan yang mulia, rendahkan diri dengan kasih sayang, dan doakan, “Rabbi irhamhuma kama rabbayani shaghira” (QS. Al-Isra’: 23-24).
  • Bentuk bakti. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin merincinya menjadi tiga: ucapan yang lembut dan hormat, perbuatan melayani kebutuhan mereka sesuai kemampuan, dan harta yang diberikan dengan lapang dada tanpa mengungkit. Berilah sebelum mereka meminta, karena banyak orang tua malu meminta kepada anaknya.
  • Nafkah orang tua. Para ulama bersepakat bahwa nafkah orang tua yang fakir dan tidak mampu bekerja wajib atas anak yang mampu, baik laki-laki maupun perempuan. Anak perempuan yang telah menikah tetap berbakti sambil menunaikan hak suaminya.
  • Batas ketaatan. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah (HR. Ahmad). Bila orang tua memerintahkan syirik, perintah itu tidak ditaati, tetapi mereka tetap dipergauli dengan baik di dunia (QS. Luqman: 15). Asma’ binti Abu Bakar diizinkan Nabi ﷺ menyambung hubungan dengan ibunya yang masih musyrik (HR. Al-Bukhari no. 2620 dan Muslim no. 1003). Amalan sunnah tidak didahulukan atas kewajiban berbakti, misalnya i’tikaf yang dilarang ayah karena ia membutuhkan anaknya (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin).
  • Durhaka termasuk dosa besar yang paling besar, disebut bersama syirik (HR. Al-Bukhari no. 2654 dan Muslim no. 87).
  • Ketika hati terasa berat. Syaikh Bin Baz menasihati anak yang sulit mencintai ibunya agar tetap berbuat baik, memberi hadiah, dan berdoa agar Allah melapangkan dadanya.
  • Setelah orang tua wafat. Bentuk bakti yang disebutkan para ulama: mendoakan dan memintakan ampun, menunaikan wasiat yang tidak menyelisihi syariat, menyambung kerabat dari jalur mereka, memuliakan sahabat mereka, dan bersedekah atas nama mereka (HR. Al-Bukhari no. 2756). Hadits Bani Salimah yang merangkumnya (HR. Abu Dawud no. 5142) dinilai sah oleh Syaikh Bin Baz tetapi dilemahkan Syaikh Al-Albani; bentuk-bentuk itu tetap punya dalil lain. Anak yang dahulu durhaka hendaknya bertaubat, memperbanyak istighfar, dan banyak mendoakan serta bersedekah untuk mereka.

Dalil pokok

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai berusia lanjut di sisimu, janganlah engkau mengatakan ‘ah’ kepada keduanya, janganlah membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.”

QS. Al-Isra’: 23

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian ibumu.” Ia bertanya, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian ibumu.” Ia bertanya, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.”

HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya bakti yang paling baik adalah seorang anak menyambung hubungan dengan keluarga sahabat dekat ayahnya.”

HR. Muslim no. 2552

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menganggap bakti selesai setelah menikah. Pernikahan menambah amanah, bukan menghapus kewajiban kepada orang tua.
  • Bersikap kasar kepada orang tua yang keliru dalam agama. Yang benar: tidak menaati kemaksiatannya, tetapi tetap santun dan menasihati dengan lembut (lihat juga bab Akhlak dan Adab).
  • Mendahulukan amalan sunnah atau kesibukan pribadi di atas kebutuhan orang tua yang nyata.

Rujukan

  • Al-Adab Al-Mufrad, Imam Al-Bukhari, bab birrul walidain.
  • Adh-Dhiya’ Al-Lami’, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
  • Birr Al-Walidain, Syaikh Amin bin ‘Abdullah Asy-Syaqawi.
  • Fatawa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (dinukil Firanda.com).

Sumber rangkuman

Pertanyaan pemahaman

Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.

  1. Sebutkan urutan amal yang paling dicintai Allah dalam hadits Ibnu Mas’ud.

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Shalat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, lalu jihad di jalan Allah.

  2. Mengapa ibu disebut tiga kali sebelum ayah?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Karena besarnya kepayahan ibu ketika mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik.

  3. Bagaimana sikap anak bila orang tua memerintahkan kesyirikan?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Tidak menaatinya dalam hal itu, tetapi tetap mempergauli keduanya dengan baik di dunia (QS. Luqman: 15).

  4. Sebutkan tiga bentuk bakti setelah orang tua wafat.

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Mendoakan dan memintakan ampun, bersedekah atas nama mereka, serta menyambung hubungan dengan kerabat dan sahabat mereka.

Bagikan ke WhatsApp

Tanya tentang modul ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “berbakti orang tua” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.