Lewati ke isi

Modul 53 dari 68

Menjaga Lisan

حفظ اللسان

Kewajiban menjaga lisan dan tulisan, dosa-dosa lisan seperti dusta, ghibah, dan namimah, serta cara bertaubat darinya.

Rujukan utama: Al-Adzkar, Imam An-Nawawi; Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali; Raudhatul ‘Uqala’, Ibnu Hibban Al-Busti; Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Tujuan belajar

Peserta memahami bahaya lisan bagi agama seseorang, mengenali dosa-dosa lisan (termasuk melalui tulisan dan media sosial), membiasakan diri berkata baik atau diam, dan mengetahui cara bertaubat dari dosa lisan.

Poin materi

  • Lisan penjaga seluruh amal. Setelah menyebutkan rukun Islam dan pintu-pintu kebaikan kepada Mu’adz bin Jabal, Nabi ﷺ memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini,” lalu menjelaskan bahwa manusia tersungkur di neraka karena hasil lisannya (HR. At-Tirmidzi no. 2616, hasan shahih). Ibnu Rajab menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah pangkal segala kebaikan.
  • Setiap ucapan dicatat. Dua malaikat mencatat setiap ucapan yang keluar (QS. Qaf: 17-18). Satu kalimat yang diucapkan tanpa dipikirkan dapat menjerumuskan pengucapnya ke neraka sejauh antara timur dan barat (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 2988).
  • Berkata baik atau diam. Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana dinukil An-Nawawi, menjelaskan: pikirkan dahulu sebelum berbicara; bila tidak membawa mudarat silakan berbicara, dan bila membawa mudarat atau ragu, diamlah. Ibnu Hibban mengingatkan bahwa manusia diberi dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengar.
  • Jaminan surga. Nabi ﷺ menjamin surga bagi orang yang menjaga apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan di antara dua kakinya (kemaluan) (HR. Al-Bukhari no. 6474).
  • Lisan dan tulisan. Muslim yang baik adalah yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya (HR. Al-Bukhari no. 10 dan Muslim no. 64). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa pengaruh tangan juga bisa luas melalui tulisan. Karena itu, unggahan, komentar, dan pesan berantai di media sosial termasuk dalam kewajiban menjaga lisan.
  • Dosa-dosa lisan. Di antaranya:
    • dusta, yang mengantarkan kepada kejahatan dan neraka (HR. Muslim no. 2607);
    • ghibah, yaitu menyebut keadaan saudara yang tidak ia sukai, dan bila tidak benar menjadi buhtan (HR. Muslim no. 2589); Imam An-Nawawi menegaskan ghibah bisa terjadi dengan ucapan, tulisan, atau isyarat;
    • namimah (mengadu domba), salah satu sebab azab kubur (HR. Al-Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292);
    • mengejek dan meremehkan orang lain (QS. Al-Hujurat: 11);
    • berdebat dengan keras (HR. Al-Bukhari no. 4523 dan Muslim no. 2668), memuji secara berlebihan di depan orang (HR. Muslim no. 3002), dan banyak menukil kabar tanpa dasar (HR. Muslim no. 1715);
    • yang paling berat: berkata tentang Allah tanpa ilmu, persaksian palsu, dan menuduh orang baik-baik berzina.
  • Orang yang bangkrut. Seseorang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi pernah mencela, menuduh, dan menzalimi orang lain, sehingga pahalanya habis dibagikan kepada mereka (HR. Muslim no. 2581).
  • Teladan Nabi ﷺ. Anas bin Malik melayani beliau sepuluh tahun dan tidak pernah sekali pun mendengar beliau berkata “uh” kepadanya (Muttafaq ‘alaih). Beliau berpesan, “Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang esok engkau meminta maaf karenanya” (HR. Ahmad).
  • Puasa melatih lisan. Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, Allah tidak butuh pada lapar dan hausnya (HR. Al-Bukhari no. 1903).
  • Cara lepas dari dosa lisan. Bertaubat dengan menyesal, berhenti, bertekad tidak mengulang, meminta kehalalan orang yang dizalimi dan menyebut kebaikannya di tempat ia dicela; serta menghindari majelis yang berisi ghibah, namimah, dan ejekan (lihat bab Taubat dan Menjaga Kehormatan Diri).

Dalil pokok

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.”

QS. Qaf: 18

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

HR. Al-Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 74

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

HR. Al-Bukhari no. 10

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menganggap ghibah boleh selama yang dibicarakan memang benar. Justru bila benar itulah ghibah; bila tidak benar, menjadi buhtan.
  • Menyebarkan kabar atau tangkapan layar tanpa memeriksa kebenarannya, padahal setiap yang didengar dan dilihat akan dimintai pertanggungjawaban.
  • Merasa aman karena “hanya menulis”, bukan berbicara. Tulisan di media sosial dinilai sama seperti ucapan.
  • Duduk di majelis ghibah tanpa mengingkari atau meninggalkannya.
  • Bercanda dengan mengejek fisik atau keadaan orang lain. Bisa jadi yang diejek lebih mulia di sisi Allah.

Rujukan

  • Al-Adzkar, Imam An-Nawawi, bab menjaga lisan.
  • Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali, syarah hadits ke-29.
  • Raudhatul ‘Uqala’ wa Nuzhatul Fudhala’, Ibnu Hibban Al-Busti.
  • Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr.

Sumber rangkuman

Pertanyaan pemahaman

Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.

  1. Apa pengertian ghibah menurut hadits?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Menyebut keadaan saudara yang tidak ia sukai; bila yang disebut tidak benar, itu menjadi buhtan (HR. Muslim no. 2589).

  2. Apa yang dimaksud “hasil lisan” dalam hadits Mu’adz?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Balasan atas ucapan-ucapan haram yang dapat menjerumuskan manusia ke neraka.

  3. Apakah tulisan di media sosial termasuk dalam kewajiban menjaga lisan?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Ya, pengaruh tulisan seperti ucapan, sehingga dusta, ghibah, dan namimah melalui tulisan juga berdosa.

  4. Sebutkan langkah bertaubat dari dosa lisan.

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Menyesal, berhenti, bertekad tidak mengulang, meminta kehalalan orang yang dizalimi, dan menyebut kebaikannya.

Bagikan ke WhatsApp

Tanya tentang modul ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “menjaga lisan” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.