Lewati ke isi

Modul 54 dari 68

Taubat dan Menjaga Kehormatan Diri

التوبة

Kewajiban dan syarat taubat, menjauhi zina beserta jalan-jalannya, serta menutup aib diri setelah bertaubat.

Rujukan utama: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (bab taubat); Fatwa-fatwa Dewan Fatwa tentang taubat dan menjaga kehormatan; Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Tujuan belajar

Peserta memahami kewajiban dan syarat taubat, tidak berputus asa dari rahmat Allah setelah berbuat dosa besar, mengetahui langkah-langkah menjauhi zina, dan mampu bersikap benar terhadap aib masa lalu yang telah ditaubati.

Poin materi

Taubat

  • Perintah bagi setiap mukmin. Allah memerintahkan orang beriman bertaubat dengan taubat nasuha, dan menjanjikan penghapusan kesalahan serta surga (QS. At-Tahrim: 8). Ayat-ayat lain yang memerintahkan istighfar dan taubat di antaranya QS. Hud: 3 dan QS. An-Nur: 31.
  • Teladan Nabi ﷺ. Beliau beristighfar dan bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari (HR. Muslim no. 2702). Taubat bukan hanya untuk pelaku dosa besar, tetapi kebutuhan setiap hamba.
  • Syarat taubat. Dalam fatwanya tentang orang yang terjatuh dalam riba, Al-Lajnah Ad-Da’imah menyebutkan: bertaubat dan beristighfar, menyesali perbuatan, dan bertekad tidak kembali kepadanya. Bila dosanya berkaitan dengan hak orang lain, taubat disertai pengembalian hak atau meminta kehalalannya (lihat bab Menjaga Lisan).
  • Pintu taubat terbuka lebar. Allah membuka pintu taubat selama nyawa belum sampai di kerongkongan. Ustadz Firanda menukil dari Ibnu Taimiyah bahwa dosa juga dapat gugur dengan sebab-sebab lain selain taubat, seperti kuatnya tauhid. Pelaku dosa besar yang bertauhid tidak keluar dari Islam; urusannya di bawah kehendak Allah.
  • Amal setelah taubat tetap diterima. Dewan Fatwa menjelaskan: siapa pun yang bertaubat dengan tulus, Allah menghapus dosanya seolah-olah ia tidak berdosa, dan amal baiknya setelah itu diterima selama ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi ﷺ. Maka jangan bersedih atau bimbang.

Menjaga kehormatan dan menjauhi zina

  • Jangan mendekati zina. Allah tidak hanya melarang zina, tetapi melarang mendekatinya (QS. Al-Isra’: 32). Zina termasuk dosa besar dengan ancaman berat di dunia dan akhirat. Pelaksanaan hukuman had adalah wewenang pemerintah, bukan perorangan.
  • Kiat menjauhinya (Dewan Fatwa). Menjaga pandangan dari yang haram karena pandangan menyulut syahwat; meninggalkan lingkungan dan pertemanan yang mengajak pacaran; dan berdoa agar Allah menjauhkan dari fitnah syahwat dan syubhat.
  • Bila pasangan terjatuh lalu bertaubat. Dewan Fatwa menasihati agar mendoakannya, mengajaknya menjaga shalat dan ke masjid, dan berharap Allah menerima taubatnya. Persoalan rumah tangga yang berat sebaiknya dikonsultasikan kepada ustadz, dan bila menyangkut perceraian, kepada Pengadilan Agama.

Menyikapi aib masa lalu

  • Menutup aib sendiri. Dosa yang telah ditaubati dan tidak diketahui orang sebaiknya tidak diceritakan, karena mengumbarnya berbahaya. Bila perlu mencari solusi, boleh berkonsultasi kepada orang beriman yang tepercaya, bahkan dengan perumpamaan seolah-olah membicarakan orang lain.
  • Kepada calon pasangan. Dewan Fatwa menjelaskan bahwa aib fisik yang menghalangi hubungan suami istri wajib disampaikan saat khitbah, penyakit yang sulit disembuhkan sebaiknya diberitahukan, sedangkan penyakit ringan tidak termasuk. Adapun berdusta untuk menutupi dosa masa lalu yang telah ditaubati, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan kaidah umumnya: dusta tidak boleh, tetapi bila terdesak, misalnya ditanya tentang perkara yang tidak ingin diketahui orang lain, boleh memakai tauriyah, yaitu ucapan yang lahiriahnya berbeda dengan kenyataan namun dimaksudkan dengan makna lain yang benar (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, juz 4, hlm. 47, Al-Maktabah Asy-Syamilah). Untuk kasus seperti ini, berkonsultasilah dengan ustadz.
  • Mengobati kesedihan masa lalu. Dewan Fatwa menganjurkan dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti “La ilaha illallahul ‘azhimul halim” dan “Allahu Allahu rabbi la usyriku bihi syai’a”, serta doa Nabi Yunus “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin” (QS. Al-Anbiya’: 87). Ingatlah bahwa urusan orang beriman seluruhnya baik: bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika tertimpa musibah (HR. Muslim). Perbaiki shalat, hubungan dengan orang tua, dan dzikir pagi-petang.

Dalil pokok

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubat nasuha). Mudah-mudahan Allah menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga.” (QS. At-Tahrim: 8)

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِيْ وَإِنِّيْ لأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya hatiku terkadang lalai, dan sungguh aku beristighfar kepada Allah dalam sehari seratus kali.”

HR. Muslim no. 2702

“Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menunda taubat atau berputus asa karena merasa dosanya terlalu besar untuk diampuni.
  • Mengira amal shalih setelah taubat tidak diterima, sehingga meninggalkan kajian dan ibadah.
  • Menceritakan dosa masa lalu tanpa keperluan, padahal Allah telah menutupinya.
  • Menganggap ringan jalan menuju zina, seperti pacaran, berduaan, dan pandangan yang haram.
  • Main hakim sendiri terhadap pelaku zina. Pelaksanaan hukuman adalah wewenang pemerintah.

Rujukan

  • Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, bab taubat dari riba (dinukil Firanda.com).
  • Majmu’ Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, jilid 7 (sebab-sebab gugurnya dosa).
  • Syarh Riyadh Ash-Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, jilid 4 (larangan dusta dan bolehnya tauriyah), rujukan pendamping.
  • Fatwa-fatwa Dewan Fatwa tentang taubat dari zina, menjauhi zina, dan aib masa lalu.

Sumber rangkuman

Pertanyaan pemahaman

Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.

  1. Apa syarat taubat yang disebutkan dalam fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Beristighfar, menyesali perbuatan, dan bertekad tidak mengulanginya.

  2. Apakah amal baik orang yang baru bertaubat dari dosa besar diterima?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Diterima, selama taubatnya tulus dan amalnya ikhlas serta sesuai tuntunan Nabi ﷺ.

  3. Sebutkan tiga kiat menjauhi zina menurut Dewan Fatwa.

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Menjaga pandangan, menjauhi lingkungan yang buruk, dan berdoa agar dijauhkan dari fitnah syahwat.

  4. Perlukah seseorang menceritakan dosa masa lalunya yang telah ia taubati?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Tidak perlu; ia hendaknya menutupi aibnya, kecuali berkonsultasi kepada orang tepercaya untuk mencari solusi.

Bagikan ke WhatsApp

Tanya tentang modul ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “taubat” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.