Lewati ke isi

Peringatan Maulid Nabi ﷺ

Kesimpulan Tidak dicontohkan Nabi ﷺ

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Ringkasan

Peringatan hari kelahiran Nabi ﷺ tidak dikerjakan oleh beliau, para sahabat, maupun generasi sesudah mereka yang paling utama. Al-Lajnah Ad-Da’imah dan Syaikh Shalih Al-Fauzan menggolongkannya sebagai bid’ah. Cinta kepada Nabi ﷺ diwujudkan dengan mengikuti sunnahnya sepanjang tahun.

Dalil

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”

QS. Al-Ma’idah: 3

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”

HR. Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718

Penjelasan ulama

Al-Lajnah Ad-Da’imah: menghormati dan memuliakan Nabi ﷺ adalah dengan mengimani risalah beliau dan mengamalkan ajaran yang beliau bawa dari Allah, sedangkan perayaan hari kelahiran beliau adalah bid’ah yang diada-adakan, berdasarkan hadits “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” Tidak ada pula keterangan yang sah bahwa Nabi ﷺ hadir di sisi seseorang setelah beliau wafat. Sumber: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (Majmu’ah Ula), jilid 3, hlm. 28, no. fatwa 4683 (Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Syaikh Shalih Al-Fauzan: bila dicari dalilnya dari Al-Qur’an, sunnah Rasul ﷺ, petunjuk para sahabat dan Khulafaur Rasyidin, hingga amalan generasi-generasi utama, tidak akan ditemukan dalil untuk perayaan maulid, sehingga tidak diragukan bahwa ia bid’ah yang diada-adakan. Perayaan ini juga terlarang dari sisi lain karena menyerupai kaum Nasrani yang merayakan kelahiran Al-Masih, dan menjadi pintu sikap berlebihan (ghuluw) terhadap Nabi ﷺ. Sumber: Majmu’ Fatawa Fadhilah Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, juz 2, hlm. 690 (Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Artikel pendamping: Hukum Memperingati Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Almanhaj.or.id; Memperingati Maulid dalam rangka Mengingat Kelahiran Nabi, Rumaysho.com; Ayo Bermaulid ‘Ala Nabi, Firanda.com.

Pendapat lain dan jawabannya

Pendapat: sebagian ulama, seperti As-Suyuthi, menilainya sebagai bid’ah hasanah karena berisi bacaan sirah, shalawat, dan sedekah.

Jawaban: hadits “setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867) bersifat umum. Seandainya perayaan ini baik, para sahabat yang paling mencintai Nabi ﷺ tentu lebih dahulu mengerjakannya. Membaca sirah, bershalawat, dan bersedekah tetap dianjurkan tanpa mengkhususkan hari tertentu.

Yang sesuai sunnah

  1. Mempelajari sirah Nabi ﷺ secara rutin.
  2. Memperbanyak shalawat, terutama pada hari Jumat.
  3. Menghidupkan sunnah beliau dalam ibadah dan akhlak sehari-hari.

Tanya tentang amalan ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “Maulid Nabi” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.