Modul 17 dari 68
Pengertian hadits, tingkatan derajatnya, dan sikap terhadap hadits lemah dan palsu yang beredar.
Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.
Tujuan belajar
Peserta mampu menjelaskan apa itu hadits, membedakan secara garis besar hadits shahih, hasan, dha’if, dan maudhu’ (palsu), serta bersikap hati-hati sebelum mengamalkan atau menyebarkan sebuah riwayat yang disandarkan kepada Nabi ﷺ.
Poin materi
Apa itu hadits
- Hadits mencakup semua yang disabdakan, dilakukan, dan disetujui Nabi ﷺ. Persetujuan berarti beliau mendiamkan sesuatu yang dilakukan di hadapan beliau atau sepengetahuan beliau. Karakter, sifat, dan perilaku beliau juga termasuk hadits (Dewan Fatwa). Dalam istilah ahli hadits, maknanya sama dengan sunnah (lihat bab Kedudukan Sunnah).
- Hadits sampai kepada kita melalui sanad (rangkaian perawi) dan matan (isi riwayat). Ulama hadits meneliti kejujuran dan hafalan setiap perawi serta bersambung atau tidaknya sanad.
- Ucapan yang disandarkan kepada Nabi ﷺ disebut marfu’, sedangkan ucapan sahabat disebut mauquf. Contoh: ungkapan “apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka baik pula di sisi Allah” sering disebut hadits, padahal para ulama hadits menjelaskan bahwa itu ucapan Ibnu Mas’ud (lihat bab Syubhat Bid’ah Hasanah dan Jawabannya).
Tingkatan derajat hadits
- Shahih: sanadnya bersambung, diriwayatkan perawi yang adil dan kuat hafalannya, tanpa kejanggalan (syadz) dan tanpa cacat tersembunyi (‘illah). Hadits shahih menjadi hujjah.
- Hasan: seperti shahih, tetapi hafalan sebagian perawinya sedikit di bawah. Hadits hasan juga menjadi hujjah. Riwayat yang lemahnya ringan bisa terangkat menjadi hasan bila dikuatkan jalur lain, seperti hadits “barang siapa akhir ucapannya laa ilaaha illallah” yang dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani karena dikuatkan riwayat lain.
- Dha’if (lemah): tidak memenuhi syarat diterima, misalnya ada perawi yang lemah, banyak meriwayatkan riwayat munkar, atau tidak dikenal (majhul). Contoh: riwayat “Bekalilah orang yang meninggal di antara kalian dengan laa ilaaha illallah” lemah karena seorang perawinya dinilai lemah oleh para imam hadits, di antaranya Imam Ahmad dan Ibnu Hajar.
- Dha’if jiddan (sangat lemah): ada perawi yang matruk, yaitu ditinggalkan riwayatnya. Contoh: riwayat bahwa siapa menziarahi kubur orang tua atau kerabatnya mendapat pahala haji mabrur.
- Maudhu’ (palsu): ada perawi pendusta atau pemalsu hadits, sehingga pada hakikatnya bukan hadits. Contoh: riwayat “siapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap Jumat lalu membaca Yasin, diampuni dosanya” dinilai palsu oleh para ulama hadits.
- Menilai derajat hadits adalah keahlian ulama hadits, dan penilaian mereka kadang berbeda. Hadits keutamaan malam nisfu Sya’ban, misalnya, dilemahkan kebanyakan ulama, tetapi sebagian ulama menshahihkannya karena banyak jalurnya. Orang awam merujuk penjelasan ulama tepercaya.
Sikap terhadap hadits lemah dan palsu
- Hadits palsu tidak boleh disandarkan kepada Nabi ﷺ, kecuali untuk menjelaskan kepalsuannya.
- Hadits lemah tidak dijadikan dasar untuk menetapkan hukum atau keutamaan amalan tertentu. Misalnya, riwayat lemah di atas tidak bisa menjadi dalil keutamaan tahlilan untuk orang yang meninggal (lihat bab Takziyah dan Berkabung).
- Tentang keutamaan amal (fadha’ilul a’mal): Syaikh Al-Albani berpendapat hadits dha’if dan maudhu’ tidak diamalkan, termasuk untuk keutamaan amal. Sebagian ulama lain membolehkan hadits yang lemahnya ringan untuk keutamaan amal dengan syarat ketat. Al-Lajnah Ad-Da’imah, misalnya, menjelaskan bahwa hadits dha’if boleh diambil dalam keutamaan amal bila lemahnya tidak parah, keutamaan amalan itu secara umum sudah tetap, dan hadits lemah itu hanya datang pada rinciannya (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, Majmu’ah Ula, jilid 4, hlm. 369, no. fatwa 9105, Al-Maktabah Asy-Syamilah). Yang paling selamat adalah mencukupkan diri dengan yang shahih, karena jumlahnya sudah lebih dari cukup.
- Bila sebuah hadits lemah tetapi maknanya benar, yang dijadikan pegangan adalah dalil shahih yang mendukung makna itu, bukan hadits lemahnya. Contohnya hadits Arbain ke-41 yang maknanya didukung QS. An-Nisa’: 65.
- Biasakan bertanya sebelum menyebarkan: hadits ini diriwayatkan siapa, di kitab apa, dan dinilai shahih oleh siapa? Contoh nyata: pesan berantai tentang anjuran puasa tanggal 1 sampai 7 Rajab tidak berdasarkan hadits shahih, dan Ibnul Qayyim menyebut hadits-hadits tentang puasa Rajab dan shalat pada malam-malam tertentu di bulan itu sebagai dusta.
Dalil pokok
“Barang siapa sengaja berdusta atas namaku, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, lalu kalian menyesali perbuatan itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Kesalahan yang sering terjadi
- Meneruskan pesan berantai berisi “hadits” keutamaan tanpa menyebut sumber dan derajatnya.
- Menganggap setiap ungkapan bijak berbahasa Arab sebagai sabda Nabi ﷺ, padahal sebagian adalah ucapan sahabat, ucapan ulama, atau tidak ada asalnya.
- Beralasan “ini hanya untuk keutamaan amal” lalu mengamalkan riwayat yang palsu.
- Sebaliknya, menolak hadits shahih hanya karena belum pernah mendengarnya atau tidak cocok dengan kebiasaan.
Rujukan
- Taisir Mushthalah Al-Hadits, Dr. Mahmud Ath-Thahhan.
- Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
- Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, bab hadits.
- Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, Majmu’ah Ula, no. 9105 (4/369) tentang mengamalkan hadits dha’if dalam keutamaan amal, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
Sumber rangkuman
- Apakah Setiap Perkataan Nabi ﷺ Disebut Hadist, Dewan Fatwa
- Hadits Dhaif (Lemah) Tentang Tahlilan Untuk Orang Mati, Almanhaj.or.id
- Hadits Lemah dan Palsu Tentang Keutamaan Ziarah Kubur Hari Jum’at, Almanhaj.or.id
- Tiga Landasan Utama Manhaj Salaf, Almanhaj.or.id
- Hadits Arbain #41: Mengikuti Sunnah Nabi, Tundukkan Hawa Nafsu, Rumaysho.com
- Malam Nisfu Syaban dan Amalan Nisfu Syaban, Rumaysho.com
- Khutbah Jumat: Bulan Rajab antara Sunnah dan Bid’ah, Rumaysho.com
- Syubhat Pendukung Bid’ah Hasanah – Syubhat Keempat, Firanda.com
Pertanyaan pemahaman
Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.
-
Apa saja yang termasuk hadits?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Ucapan, perbuatan, persetujuan, serta sifat dan perilaku Nabi ﷺ.
-
Apa beda hadits marfu’ dan mauquf?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Marfu’ disandarkan kepada Nabi ﷺ, mauquf adalah ucapan sahabat.
-
Apa yang menyebabkan sebuah hadits dinilai palsu?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Di sanadnya ada perawi pendusta atau pemalsu hadits.
-
Bolehkah hadits lemah dijadikan dasar keutamaan amalan tertentu seperti tahlilan?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Tidak; hukum dan keutamaan amalan ditetapkan dengan dalil yang shahih.
-
Apa yang sebaiknya dilakukan sebelum menyebarkan sebuah hadits?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Memeriksa sumber dan derajatnya, atau bertanya kepada ulama tepercaya.
Tanya tentang modul ini
AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.
Bacaan lanjutan
- Tsalatsatul Ushul: Mengenal Tiga Landasan Utama Rumaysho.com
- ‘Umar dan Imam Syafi’i Berbicara tentang Bid’ah Hasanah Rumaysho.com
- Dalil Bolehnya Tahlilan Firanda.com
- Penjelasan Kitab Tauhid BAB 8 – Tentang Ruqyah dan Tamimah Firanda.com
Cari pembahasan lain tentang “hadits dhaif” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.