Lewati ke isi

Modul 16 dari 68

Kedudukan Sunnah dan Kewajiban Mengikuti Nabi ﷺ

مكانة السنة

Makna sunnah, kedudukannya sebagai wahyu penjelas Al-Qur’an, dan kewajiban mengikuti Nabi ﷺ.

Rujukan utama: Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, Syaikh Shalih Al-Fauzan; Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Tujuan belajar

Peserta mampu menjelaskan makna sunnah menurut istilah para ulama, memahami bahwa sunnah adalah wahyu yang wajib diikuti dan menjadi penjelas Al-Qur’an, serta menyadari bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti), bukan sekadar pengakuan.

Poin materi

Makna sunnah

  • Secara bahasa, sunnah berarti jalan atau kebiasaan, baik jalan yang baik maupun yang buruk.
  • Secara istilah, maknanya berbeda sesuai bidang ilmu:
    • ahli hadits: semua yang disandarkan kepada Nabi ﷺ berupa ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir), atau sifat; dalam makna ini sunnah sama dengan hadits (lihat bab Mengenal Hadits Shahih, Dha’if, dan Palsu);
    • ahli ushul fiqih: dalil dari Nabi ﷺ selain Al-Qur’an, berupa ucapan, perbuatan, dan persetujuan;
    • ahli fiqih: amalan yang dianjurkan tetapi tidak wajib (mustahab, mandub); pelakunya mendapat pahala dan yang meninggalkannya tidak disiksa;
    • ulama aqidah (salaf): petunjuk Nabi ﷺ dan para sahabatnya dalam keyakinan, ucapan, dan amal. Inilah “sunnah yang sempurna” menurut Ibnu Rajab, dan lawannya adalah bid’ah.

Kedudukan sunnah

  • Sunnah adalah wahyu dan penjelas Al-Qur’an. Tata cara shalat dan kadar zakat, misalnya, dijelaskan oleh sunnah.
  • Taat kepada Rasul ﷺ adalah bagian dari taat kepada Allah (QS. Ali ‘Imran: 32). Dalam QS. An-Nur: 47-51, Allah meniadakan iman orang yang berpaling dari keputusan Rasul, dan memuji orang beriman yang berkata, “Kami mendengar dan kami taat.”
  • Nabi ﷺ bersabda bahwa apa yang beliau larang wajib dijauhi, dan apa yang beliau perintahkan dikerjakan semampunya (HR. Muslim).
  • Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi ﷺ, atau ada orang yang boleh keluar dari syariat beliau, termasuk pembatal keislaman (lihat bab Pembatal-pembatal Keislaman).

Cinta dibuktikan dengan ittiba’

  • Menurut Ibnu Katsir, QS. Ali ‘Imran: 31 menjadi hakim bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah: bila ia tidak menempuh jalan Nabi ﷺ, pengakuannya dusta.
  • Iman belum sempurna sampai Nabi ﷺ lebih dicintai daripada orang tua, anak, dan seluruh manusia (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44), bahkan daripada diri sendiri, sebagaimana kisah ‘Umar bin Al-Khaththab (HR. Al-Bukhari no. 6632).
  • Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan bahwa tanda pertama cinta kepada Nabi ﷺ adalah meneladani beliau dan mengamalkan sunnahnya.

Hawa nafsu tunduk kepada syariat

  • Hadits Arbain ke-41, “Tidak beriman seorang dari kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa”, dinilai lemah oleh Ibnu Rajab. Namun maknanya benar karena didukung ayat, seperti QS. An-Nisa’: 65 dan QS. Al-Ahzab: 36.
  • Ibnu Rajab menjelaskan bahwa maksiat muncul karena mendahulukan dunia di atas cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sedangkan bid’ah muncul karena mendahulukan hawa nafsu di atas syariat.
  • Kaidahnya: dalil didahulukan, baru kemudian diyakini. Bukan meyakini sesuatu lebih dulu, lalu mencari-cari dalil untuk membenarkannya.

Berpegang pada sunnah bersama para sahabat

  • Ketika perselisihan banyak terjadi, Nabi ﷺ berwasiat agar umat berpegang pada sunnah beliau dan sunnah khulafa’ur rasyidin, serta menjauhi perkara baru dalam agama.
  • Buah ittiba’ antara lain: mendapat petunjuk (QS. An-Nur: 54), selamat dari ancaman bagi penyelisih perintah Rasul (QS. An-Nur: 63), dan masuk surga.

Dalil pokok

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.”

QS. Al-Hasyr: 7

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga menjadikan engkau hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak merasa keberatan dalam hati terhadap putusanmu, dan mereka menerima sepenuhnya.”

QS. An-Nisa’: 65

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”

QS. Ali ‘Imran: 31

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ

“Wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin yang mendapat petunjuk.”

HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab, “Siapa yang menaatiku masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku, dialah yang enggan.”

HR. Al-Bukhari no. 7280

Kesalahan yang sering terjadi

  • Menganggap “sunnah” hanya berarti amalan tambahan yang boleh ditinggalkan, lalu meremehkan petunjuk Nabi ﷺ secara umum. Koreksi: dalam istilah fiqih memang ada amalan sunnah yang tidak wajib, tetapi mengikuti jalan Nabi ﷺ dalam keyakinan dan cara beribadah adalah kewajiban.
  • Mengaku cinta kepada Nabi ﷺ tetapi meninggalkan perintah beliau dan menggantinya dengan amalan yang beliau tidak ajarkan. Koreksi: cinta yang benar melahirkan ittiba’.
  • Menolak hadits shahih karena tidak cocok dengan perasaan atau kebiasaan. Koreksi: tidak ada pilihan lain bagi orang beriman setelah Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu perkara (QS. Al-Ahzab: 36).
  • Meyakini sesuatu lebih dulu, lalu mencari dalil untuk membenarkannya.

Rujukan

  • Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, Syaikh Shalih Al-Fauzan.
  • Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, bab ittiba’ dan hadits.
  • Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali, syarah hadits ke-41.

Sumber rangkuman

Pertanyaan pemahaman

Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.

  1. Apa saja yang termasuk sunnah menurut ahli hadits?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Ucapan, perbuatan, persetujuan, dan sifat Nabi ﷺ.

  2. Apa lawan dari sunnah dalam istilah ulama aqidah?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Bid’ah.

  3. Apa bukti cinta kepada Allah menurut QS. Ali ‘Imran: 31?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Mengikuti Rasulullah ﷺ.

  4. Bagaimana sikap terhadap perintah dan larangan Nabi ﷺ?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Larangan dijauhi, perintah dikerjakan semampunya.

  5. Mengapa bid’ah bisa muncul menurut Ibnu Rajab?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Karena mendahulukan hawa nafsu di atas syariat.

Bagikan ke WhatsApp

Tanya tentang modul ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “mengikuti sunnah” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.