Modul 20 dari 68
Dalih yang sering dipakai untuk membenarkan bid’ah hasanah beserta jawabannya dari dalil dan ucapan ulama.
Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.
Tujuan belajar
Peserta mampu menjelaskan mengapa sabda “setiap bid’ah adalah kesesatan” berlaku umum, memahami maksud ucapan ‘Umar bin Al-Khaththab dan Imam Asy-Syafi’i tentang bid’ah yang baik, serta menjawab dalih-dalih bid’ah hasanah dengan ilmu dan adab.
Poin materi
Pokok persoalan
- Lafaz “kullu” (setiap) dalam sabda “setiap bid’ah adalah kesesatan” bersifat umum. Imam Asy-Syathibi menjelaskan bahwa para ulama memaknainya sesuai keumumannya tanpa pengecualian.
- Para sahabat memahaminya demikian. Ibnu ‘Umar berkata bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan walaupun manusia menganggapnya baik, dan Ibnu Mas’ud menyatakan hal yang sama.
- Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perkara yang bukan wajib dan bukan sunnah tidak pernah dianggap oleh seorang ulama pun sebagai kebaikan yang mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, yang disebut “hasanah” oleh sebagian ulama sebenarnya perkara yang memiliki dalil.
- Membagi bid’ah menjadi hasanah dan sayyi’ah mudah menimbulkan salah paham di masyarakat. Perbedaan definisi para ulama dibahas di bab Memahami Bid’ah.
Dalih pertama: ucapan ‘Umar, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”
- Nabi ﷺ pernah shalat tarawih berjamaah beberapa malam, lalu meninggalkannya karena khawatir diwajibkan. Setelah beliau wafat kekhawatiran itu hilang, dan ‘Umar mengumpulkan orang-orang pada satu imam. Jadi, tarawih berjamaah adalah sunnah, juga sunnah khulafa’ur rasyidin.
- Ibnu Rajab dan Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa bid’ah dalam ucapan ‘Umar bermakna bahasa. Seandainya dipahami lain pun, ucapan sahabat tidak boleh dipertentangkan dengan sabda Nabi ﷺ.
Dalih kedua: ucapan Imam Asy-Syafi’i, “Bid’ah ada dua: terpuji dan tercela”
- Dalam riwayat lain yang shahih (dikeluarkan Al-Baihaqi), beliau menjelaskan bahwa perkara baru yang menyelisihi Al-Qur’an, sunnah, atsar, atau ijma’ adalah bid’ah yang sesat, sedangkan kebaikan yang tidak menyelisihi semua itu bukan perkara baru yang tercela. Menurut Ibnu Rajab, yang beliau maksud adalah bid’ah secara bahasa.
- Imam Asy-Syafi’i sangat keras mendahulukan hadits: “Jika hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.” Beliau juga dinukil berkata, “Barang siapa menganggap baik (tanpa dalil), ia telah membuat syariat.”
Dalih ketiga: “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka baik di sisi Allah”
- Ini bukan sabda Nabi ﷺ, melainkan ucapan Ibnu Mas’ud, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hazm, Az-Zaila’i, dan Ibnu Hajar.
- Dalam konteks lengkapnya, Ibnu Mas’ud membicarakan kesepakatan para sahabat mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Banyak ulama memakainya sebagai dalil ijma’, bukan dalil bahwa penilaian sebagian orang menjadikan sesuatu baik. Bila sebagian ulama menganggap baik dan sebagian lain menganggapnya buruk, tidak ada ijma’ di sana.
Dalih keempat: pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf
- Al-Qur’an sudah ditulis di masa Nabi ﷺ, tetapi terpisah-pisah. Abu Bakar mengumpulkannya atas usulan ‘Umar, lalu ‘Utsman menyalinnya menjadi beberapa mushaf. Ini sunnah khalifah rasyid, disepakati para sahabat, dan bagian dari penjagaan Al-Qur’an (QS. Al-Hijr: 9).
- Ini sarana (maslahah mursalah), bukan tata cara ibadah baru, sama seperti mendirikan pondok tahfizh atau menyusun ilmu nahwu. Meski begitu, Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit sempat ragu mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan Rasulullah ﷺ, sampai yakin akan kebaikannya.
Dalih kelima: “Niatnya baik dan isinya dzikir”
- Ibnu Mas’ud mengingkari sekelompok orang yang duduk melingkar di masjid sambil bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan cara yang tidak diajarkan. Ketika mereka berkata hanya menginginkan kebaikan, beliau menjawab dengan ucapan yang tercantum di bawah.
- Bila baik dan buruk diserahkan kepada perasaan, setiap orang akan menganggap baik amalan barunya. Tolok ukurnya adalah dalil.
Dalil pokok
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah kesesatan, walaupun manusia menganggapnya baik.”
اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
“Ikutilah (petunjuk Nabi ﷺ) dan janganlah berbuat bid’ah, karena kalian telah dicukupkan. Setiap bid’ah adalah kesesatan.”
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, tetapi tidak mendapatkannya.”
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Tunjukkanlah bukti kebenaran kalian jika kalian orang-orang yang benar.”
Kesalahan yang sering terjadi
- Membawakan ucapan ‘Umar dan Imam Asy-Syafi’i tanpa konteks untuk membenarkan amalan yang tidak ada dalilnya.
- Menyebut ucapan Ibnu Mas’ud “apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin” sebagai hadits Nabi ﷺ.
- Menyamakan sarana, seperti mushaf, pesantren, dan pengeras suara, dengan tata cara ibadah baru.
- Menyampaikan jawaban dengan mengejek atau kasar. Koreksi: jawablah dengan ilmu dan santun (lihat bab Adab Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama dan bab Menasihati Keluarga dan Masyarakat dengan Hikmah).
Rujukan
- Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
- Al-I’tisham, Imam Asy-Syathibi.
- Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali.
- Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, bab bid’ah.
Sumber rangkuman
- Beda Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah, Rumaysho.com
- ‘Umar dan Imam Syafi’i Berbicara tentang Bid’ah Hasanah, Rumaysho.com
- Mengenal Bid’ah (2), Mengkritisi Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah, Rumaysho.com
- Syubhat Pendukung Bid’ah Hasanah – Syubhat Keempat, Firanda.com
- Syubhat-Syubhat Para Pendukung Bid’ah Hasanah – Syubhat Kelima, Firanda.com
Pertanyaan pemahaman
Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.
-
Mengapa sabda “setiap bid’ah adalah kesesatan” tidak boleh dikecualikan?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Karena lafaznya umum, dan para sahabat serta ulama memahaminya secara umum.
-
Apa maksud ucapan ‘Umar “sebaik-baik bid’ah adalah ini”?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Bid’ah secara bahasa, karena tarawih berjamaah memiliki dasar dari sunnah Nabi ﷺ.
-
Benarkah “apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka baik di sisi Allah” adalah hadits Nabi ﷺ?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Bukan; itu ucapan Ibnu Mas’ud yang dipakai ulama sebagai dalil ijma’.
-
Mengapa pengumpulan Al-Qur’an tidak termasuk bid’ah dalam agama?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Karena ia sarana menjaga Al-Qur’an, sunnah khalifah rasyid, dan disepakati para sahabat, bukan tata cara ibadah baru.
-
Apa jawaban Ibnu Mas’ud kepada orang yang berdzikir dengan cara baru dan berkata hanya menginginkan kebaikan?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tetapi tidak mendapatkannya.
Tanya tentang modul ini
AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.
Bacaan lanjutan
- Baiat Sunnah dan Bid’ah Almanhaj.or.id
- Dzikir Berjama’ah Setelah Shalat Almanhaj.or.id
- Peringatan Maulid Nabi Menurut Syariat Islam Almanhaj.or.id
Cari pembahasan lain tentang “bidah hasanah” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.