Modul 18 dari 68
Amal diterima bila ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Nabi ﷺ; perusak amal dan tanda diterimanya.
Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.
Tujuan belajar
Peserta mampu menjelaskan dua syarat diterimanya amal, yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Nabi ﷺ), mengenali hal-hal yang merusak keduanya, dan menerapkannya dalam ibadah sehari-hari tanpa berlebihan maupun meremehkan.
Poin materi
Dua syarat diterimanya amal
- Dasar diterimanya amal adalah iman. Amal orang kafir, sebaik apa pun, tidak bernilai di akhirat (QS. Al-Furqan: 23). ‘Aisyah pernah bertanya tentang Ibnu Jud’an yang menyambung silaturahim dan memberi makan orang miskin di masa jahiliyah; Nabi ﷺ menjawab bahwa itu tidak bermanfaat baginya karena ia tidak pernah memohon ampun untuk hari pembalasan (HR. Muslim).
- Syarat pertama, ikhlas: memurnikan ibadah hanya untuk Allah, tanpa mengharap pujian atau balasan dari makhluk.
- Syarat kedua, mutaba’ah: ibadah dikerjakan sesuai tuntunan Nabi ﷺ. Amal yang tidak ada tuntunannya tertolak.
- Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan bahwa amal yang ikhlas tetapi tidak benar tidak diterima, dan amal yang benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima. Amal diterima bila ikhlas dan benar: ikhlas bila karena Allah, benar bila di atas sunnah. Karena itu, “yang paling baik amalnya” dalam QS. Al-Mulk: 2 dijelaskan sebagai yang paling murni dan paling benar.
- Dua syarat ini adalah buah dua kalimat syahadat: laa ilaaha illallah menuntut ikhlas, dan Muhammad Rasulullah menuntut mutaba’ah (lihat bab Makna Dua Kalimat Syahadat).
Niat dan ikhlas
- Inti amal adalah niat. Amal yang kecil bisa menjadi besar karena niat, dan amal yang besar bisa menjadi kecil karena niat. Yahya bin Abi Katsir berpesan, “Pelajarilah niat, karena ia lebih berpengaruh daripada amal.”
- Sa’id bin Jubair berkata bahwa ucapan, perbuatan, dan niat tidak diterima kecuali sesuai sunnah. Jadi niat yang baik tidak menggantikan syarat mutaba’ah.
- Keikhlasan tidak akan tumbuh di hati yang masih haus pujian, sanjungan, dan pamrih dari manusia. Riya’ (beramal agar dilihat orang) merusak amal yang tercampur dengannya.
Mengikuti dalam batas kemampuan, tanpa berlebihan
- Larangan Nabi ﷺ wajib dijauhi, sedangkan perintah beliau dikerjakan semampunya (HR. Muslim).
- Setan menyesatkan dari dua arah: orang yang lalai dibuat meremehkan kewajiban (taqshir), sedangkan orang yang rajin beribadah dibuat berlebihan sampai melampaui batas (ghuluw). Keselamatan dari keduanya hanya dengan mengikuti sunnah.
- Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus walaupun sedikit (Muttafaq ‘alaih).
Perusak amal
- Syirik menghapus seluruh amal (QS. Al-An’am: 88), demikian pula mati dalam keadaan murtad (QS. Al-Baqarah: 217) dan membenci apa yang Allah turunkan (QS. Muhammad: 9).
- Bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni seseorang dapat menghapus amal orang yang bersumpah (HR. Muslim), dan pahala orang yang menzalimi sesama akan berpindah kepada orang yang dizaliminya pada hari kiamat (HR. Muslim).
- Kerugian terbesar adalah mengira sedang berbuat baik padahal amalnya sia-sia (QS. Al-Kahfi: 103-104).
Tanda amal diterima
- Kebaikan diikuti kebaikan berikutnya. Al-Hasan Al-Bashri berkata bahwa di antara balasan kebaikan adalah kebaikan sesudahnya.
- Merasa amalnya masih sedikit, beristighfar setelah beribadah, dan khawatir amalnya tidak diterima. ‘Aisyah bertanya tentang QS. Al-Mu’minun: 60, dan Nabi ﷺ menjelaskan bahwa mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah sambil takut amalnya tidak diterima (HR. At-Tirmidzi).
- Berdoa agar amal diterima, sebagaimana doa Nabi Ibrahim dan Ismail ketika meninggikan fondasi Ka’bah (QS. Al-Baqarah: 127).
Dalil pokok
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia beramal shalih dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya.”
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami padanya, maka amalan itu tertolak.”
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang di dalamnya ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.”
Kesalahan yang sering terjadi
- Beralasan “yang penting niatnya baik” untuk membenarkan amalan yang tidak ada tuntunannya. Koreksi: niat baik saja tidak cukup; amal juga harus benar menurut sunnah.
- Sebaliknya, teliti dalam tata cara ibadah tetapi lalai menjaga hati dari riya’ dan bangga diri.
- Merasa amalnya sudah banyak lalu meremehkan orang lain.
- Memberatkan diri melebihi tuntunan, atau sebaliknya meremehkan kewajiban.
Rujukan
- Kitab At-Tauhid (buku ajar), Syaikh Shalih Al-Fauzan.
- Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali, syarah hadits pertama (niat) dan hadits kelima (amalan yang tertolak).
- Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, bab aqidah.
Sumber rangkuman
- Ikhlas Beribadah karena Allah Sesuai Tuntunan Nabi, Firanda.com
- Indahnya Mengikuti Sunnah, Almanhaj.or.id
- Mentaati Perintah dan Mengikuti Sunnah Rasulullah, Almanhaj.or.id
Pertanyaan pemahaman
Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.
-
Apa dua syarat diterimanya amal?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Ikhlas karena Allah dan sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
-
Menurut Fudhail bin ‘Iyadh, kapan amal disebut ikhlas dan kapan disebut benar?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Ikhlas bila dikerjakan karena Allah, benar bila sesuai sunnah.
-
Apakah niat baik cukup untuk membuat sebuah amalan diterima?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Tidak; amalan juga harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
-
Apa dua jalan setan untuk menyesatkan orang dalam beribadah?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Membuatnya meremehkan (taqshir) atau berlebihan (ghuluw).
-
Sebutkan satu tanda amal diterima.
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Kebaikan diikuti kebaikan berikutnya, atau tetap merasa amal masih sedikit dan beristighfar.
Tanya tentang modul ini
AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.
Bacaan lanjutan
- Bertawassul dengan Keikhlasan kepada Allah di Dalam Amal Perbuatan Almanhaj.or.id
- Apakah Boleh Menceritakan Aib Masa Lalu dan Bagaimana Cara Ikhlas Menerima Takdir serta Melupakan Kejadian Kelam? Dewan Fatwa
- Keutamaan Tauhid Almanhaj.or.id
- Hadits Arbain #29: Mulianya Perkara Shalat dan Menjaga Lisan Rumaysho.com
Cari pembahasan lain tentang “ikhlas” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.