Lewati ke isi

Modul 8 dari 68

Tauhid Asma’ wa Shifat

الأسماء والصفات

Menetapkan nama dan sifat Allah sesuai Al-Qur’an dan sunnah, tanpa menyerupakan dan tanpa menolak.

Rujukan utama: Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Shalih Al-Fauzan; Al-Qawa’id Al-Mutsla, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Tujuan belajar

Peserta memahami kaidah dasar Ahlus Sunnah dalam memahami nama dan sifat Allah, mengenal pembagian sifat, dan dapat menghindari dua kesalahan besar: menyerupakan dan menolak.

Poin materi

Kaidah pokok

  • Menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dan apa yang ditetapkan Rasul-Nya, serta menyucikan Allah dari segala aib dan kekurangan sebagaimana Allah dan Rasul-Nya menyucikan-Nya.
  • Tanpa tahrif (mengubah lafaz atau makna), tanpa ta’thil (menolak), tanpa takyif (menanyakan atau menentukan bagaimana), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).
  • Dua prinsip: Allah wajib disucikan dari semua sifat kekurangan, seperti mengantuk, tidur, lemah, bodoh, dan mati; dan Allah memiliki nama serta sifat yang sempurna tanpa ada makhluk yang menyamainya.
  • QS. Asy-Syura: 11 menjadi timbangan. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” membantah orang yang menyerupakan, sedangkan “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” membantah orang yang menolak sifat.
  • Ketika Imam Malik, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’ad, dan Sufyan Ats-Tsauri ditanya tentang dalil-dalil sifat, mereka menjawab: biarkan sebagaimana datangnya, tanpa menanyakan bagaimana. Imam Asy-Syafi’i berkata bahwa ia beriman kepada apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya sesuai maksud Allah dan Rasul-Nya.
  • Dalam menyebut sifat-Nya, Allah memadukan penafian dan penetapan. Penafian dalam Al-Qur’an bukan penolakan kosong, tetapi mengandung penetapan kesempurnaan.

Pembagian sifat

  • Sifat tsubutiyyah: sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya; semuanya sifat kesempurnaan.
    • Dzatiyyah: senantiasa melekat pada Allah, seperti hidup, ilmu, kuasa, mendengar, melihat, keperkasaan, hikmah, dan ketinggian (al-‘uluw), termasuk sifat khabariyyah seperti wajah, dua tangan, dan dua mata.
    • Fi’liyyah: terkait dengan kehendak-Nya, seperti istiwa’ di atas ‘Arsy, turun ke langit dunia, dan datang pada hari kiamat (QS. Al-Fajr: 22).
    • Sifat kalam termasuk keduanya: pokoknya dzatiyyah karena Allah senantiasa berbicara, sedangkan setiap firman yang Dia ucapkan terkait kehendak-Nya.
  • Sifat salbiyyah: sifat kekurangan yang Allah nafikan dari diri-Nya, seperti mati, tidur, bodoh, lupa, lemah, dan lelah. Penafian ini disertai penetapan kebalikannya yang sempurna; tidak tidur berarti hidup-Nya sempurna, tidak bodoh berarti ilmu-Nya sempurna.
  • Di antara yang diimani Ahlus Sunnah: Allah Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, istiwa’ di atas ‘Arsy sesuai keagungan-Nya, berbicara dengan kalam yang hakiki, dan dilihat oleh orang beriman di akhirat.

Buah tauhid ini

  • Mengenal nama dan sifat Allah menumbuhkan cinta, takut, dan harap kepada-Nya, serta mendorong berdoa dengan menyebut nama-nama-Nya yang terbaik (lihat bab Tawassul).

Dalil pokok

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

QS. Asy-Syura: 11

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Mahasuci Rabbmu, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan. Kesejahteraan atas para rasul, dan segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”

QS. Ash-Shaffat: 180-182

وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

“Dan datanglah Rabbmu, sedang malaikat berbaris-baris.”

QS. Al-Fajr: 22

Kesalahan yang sering terjadi

  • Membayangkan atau menanyakan bagaimana sifat Allah, misalnya bagaimana Allah bersemayam. Koreksi: maknanya diimani, sedangkan hakikat bentuknya hanya Allah yang mengetahui.
  • Menolak atau menakwil sifat dengan alasan menyucikan Allah. Koreksi: menyucikan Allah dilakukan tanpa menolak sifat yang Dia tetapkan sendiri.
  • Menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Koreksi: kesamaan nama tidak berarti kesamaan hakikat; tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
  • Mengatakan Allah “ada di mana-mana” dengan maksud dzat-Nya berada di setiap tempat. Koreksi: Allah Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Rujukan

  • Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  • Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Shalih Al-Fauzan.
  • Al-Qawa’id Al-Mutsla fi Shifatillahi wa Asma’ihil Husna, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
  • Lum’atul I’tiqad, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi.

Sumber rangkuman

Pertanyaan pemahaman

Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.

  1. Apa empat hal yang dihindari dalam memahami sifat Allah?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.

  2. Ayat apa yang menjadi kaidah pokok bab ini?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Firman Allah dalam QS. Asy-Syura: 11.

  3. Apa beda sifat tsubutiyyah dan salbiyyah?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Tsubutiyyah adalah sifat kesempurnaan yang ditetapkan, sedangkan salbiyyah adalah sifat kekurangan yang dinafikan dari Allah.

  4. Bagaimana sikap para imam salaf terhadap dalil-dalil sifat?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Mengimaninya sebagaimana datangnya tanpa menanyakan bagaimana.

Bagikan ke WhatsApp

Tanya tentang modul ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “asma wa shifat” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.