Lewati ke isi

Modul 5 dari 68

Makna Dua Kalimat Syahadat

معنى الشهادتين

Makna la ilaha illallah, rukun dan syaratnya, serta konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah.

Rujukan utama: Kitab At-Tauhid (buku ajar), Syaikh Shalih Al-Fauzan; Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, Syaikh Shalih Al-Fauzan

Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.

Tujuan belajar

Peserta memahami makna dua kalimat syahadat dengan benar, bukan sekadar mengucapkannya, serta mengetahui syarat dan konsekuensinya.

Poin materi

Makna la ilaha illallah

  • Maknanya: tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah (la ma’buda bihaqqin illallah).
  • Kalimat ini terdiri dari empat kata: la (meniadakan seluruh jenis sesembahan), ilah (yang disembah), illa (kecuali), dan Allah. Para ulama memperkirakan kata “yang benar” (bihaqqin) di dalamnya, karena sesembahan selain Allah memang ada, tetapi semuanya batil.
  • Dua rukunnya: penafian (la ilaha) yang meniadakan semua sesembahan selain Allah, dan penetapan (illallah) yang menetapkan ibadah hanya untuk Allah. Keduanya tergambar dalam ucapan Nabi Ibrahim: aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dzat yang menciptakanku.
  • Menafsirkannya hanya dengan “tidak ada pencipta selain Allah” adalah kekeliruan, karena kaum musyrikin pun mengakui hal itu. Tafsir seperti ini membuat orang tidak merasa bersalah ketika menyembelih, berdoa, atau beristighatsah kepada selain Allah.

Syarat dan konsekuensinya

  • Syarat-syaratnya: ilmu, yakin, ikhlas, jujur, cinta, tunduk, dan menerima.
  • Mengucapkan syahadat menjaga darah dan harta seseorang di dunia. Adapun di akhirat, ia baru bermanfaat bila diucapkan dengan memahami maknanya dan meyakininya. Pemahaman tanpa keyakinan tidak cukup, sebagaimana sebagian ahli kitab mengenal kebenaran Nabi ﷺ tetapi tidak beriman kepada beliau.
  • Nabi ﷺ menyebutkan, bersama ucapan la ilaha illallah, sikap mengingkari segala yang disembah selain Allah. Tidak cukup sekadar melafalkan atau memahami artinya; harus ada ibadah hanya kepada Allah dan berlepas diri dari syirik.
  • Orang yang wafat di atas tauhid yang benar, walaupun memiliki dosa, akan diselamatkan oleh kalimat ini dari kekekalan di neraka.

Makna Muhammad Rasulullah

  • Menaati perintah beliau, membenarkan berita yang beliau sampaikan, menjauhi apa yang beliau larang, dan beribadah kepada Allah hanya dengan syariat yang beliau bawa.

Dalil pokok

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”

QS. Muhammad: 19

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ . إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapak dan kaumnya: sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali (Allah) yang telah menciptakanku, karena Dia akan memberiku petunjuk.”

QS. Az-Zukhruf: 26-27

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ

“Siapa yang mengucapkan la ilaha illallah dan mengingkari segala yang disembah selain Allah, haramlah harta dan darahnya, dan perhitungannya diserahkan kepada Allah.”

HR. Muslim

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, ia masuk surga.”

HR. Muslim no. 26

Kesalahan yang sering terjadi

  • Berdzikir la ilaha illallah berulang-ulang tetapi tetap melakukan praktik syirik, seperti meminta hajat kepada penghuni kubur. Koreksi: dzikir ini justru menuntut berlepas diri dari semua sesembahan selain Allah.
  • Mengartikan la ilaha illallah sebagai “tidak ada Tuhan” dalam arti pencipta saja. Koreksi: ilah berarti yang disembah; artinya tidak ada yang berhak disembah selain Allah.
  • Menganggap cinta kepada Nabi ﷺ cukup dengan pujian, tanpa menaati perintah dan menjauhi larangan beliau. Koreksi: syahadat kerasulan menuntut ketaatan dan beribadah sesuai syariat beliau.

Rujukan

  • Kitab At-Tauhid (buku ajar), Syaikh Shalih Al-Fauzan.
  • Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, Syaikh Shalih Al-Fauzan.
  • Kitab At-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, bab Tafsir At-Tauhid dan Syahadat La Ilaha Illallah.
  • At-Tauhid Awwalan Ya Du’atal Islam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Sumber rangkuman

Pertanyaan pemahaman

Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.

  1. Apa makna la ilaha illallah?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah.

  2. Apa dua rukunnya?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Penafian (la ilaha) dan penetapan (illallah).

  3. Mengapa tafsir “tidak ada pencipta selain Allah” tidak cukup?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Karena kaum musyrikin pun mengakuinya, padahal mereka tetap menyembah selain Allah.

  4. Apakah mengucapkan syahadat tanpa memahami maknanya bermanfaat di akhirat?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Tidak; harus disertai pemahaman, keyakinan, dan pengingkaran terhadap sesembahan selain Allah.

  5. Apa konsekuensi bersyahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah?

    Lihat jawabanSembunyikan jawaban

    Menaati perintahnya, membenarkan beritanya, menjauhi larangannya, dan beribadah sesuai syariatnya.

Bagikan ke WhatsApp

Tanya tentang modul ini

AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.

Bacaan lanjutan

Cari pembahasan lain tentang “makna syahadat” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.