Modul 7 dari 68
Empat tingkatan iman kepada takdir, kehendak hamba, sikap terhadap takdir buruk, dan kekeliruan yang sering terjadi.
Draf. Pembahasan ini belum ditinjau dewan pengawas. Periksa kembali dalil dan rujukannya sebelum menyebarkan.
Tujuan belajar
Peserta memahami makna dan tingkatan iman kepada takdir, mampu menyeimbangkan antara takdir dan ikhtiar, serta menjadikan iman kepada takdir sebagai sumber ketenangan, bukan alasan berbuat maksiat.
Poin materi
Pengertian
- Qadar (takdir) adalah ilmu dan kehendak Allah yang terdahulu terhadap seluruh makhluk sebelum Dia menciptakannya. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi melainkan Allah telah mengetahui, menghendaki, dan menetapkannya sesuai hikmah-Nya. Qadha’ adalah ketetapan Allah ketika hal itu diwujudkan; bila disebut terpisah, keduanya bermakna mirip.
- Iman kepada takdir termasuk rukun iman dan berkaitan erat dengan tauhid rububiyah serta asma’ wa shifat.
Empat tingkatan
- Ilmu: Allah mengetahui segala sesuatu secara global dan terperinci, baik perbuatan-Nya maupun perbuatan hamba (QS. Al-Hajj: 70).
- Penulisan: Allah telah menulis takdir seluruh makhluk di Lauhul Mahfuzh lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.
- Kehendak: apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.
- Penciptaan: Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba (QS. Ash-Shaffat: 96).
- Selain takdir umum di Lauhul Mahfuzh, ada takdir sepanjang umur yang ditulis ketika janin dalam kandungan, takdir tahunan pada malam lailatul qadr, dan takdir harian.
Takdir dan kehendak hamba
- Manusia memiliki kehendak dan kemampuan yang nyata; ia benar-benar pelaku perbuatannya dan akan dimintai pertanggungjawaban. Namun kehendaknya berada di bawah kehendak Allah (QS. Al-Insan: 30).
- Ada dua pemahaman keliru: yang menganggap manusia terpaksa tanpa kehendak sama sekali, dan yang menganggap manusia menciptakan perbuatannya sendiri lepas dari kehendak Allah. Ahlus Sunnah berada di tengah.
- Ketika para sahabat bertanya apakah sebaiknya pasrah saja pada ketetapan, Nabi ﷺ menjawab: beramallah, karena setiap orang dimudahkan menuju apa yang ditetapkan baginya.
- Doa dan usaha termasuk sebab yang juga ditakdirkan, seperti kenyang ditakdirkan melalui makan. Bersandar pada usaha semata merusak tauhid, sedangkan meninggalkan usaha menyelisihi syariat.
Takdir yang buruk
- Keburukan tidak ada pada perbuatan Allah menakdirkan, karena semuanya mengandung hikmah. Keburukan ada pada sesuatu yang ditakdirkan, seperti musibah atau maksiat.
- Kisah Nabi Musa dan Khidhir dalam surat Al-Kahfi mengajarkan bahwa yang tampak buruk bisa menyimpan rahmat yang lebih besar, dan ilmu manusia sangat terbatas.
- Ukuran baik dan buruk adalah pilihan Allah melalui perintah dan larangan-Nya, bukan perasaan suka atau benci kita (QS. Al-Baqarah: 216).
- Takdir boleh dijadikan penghibur saat tertimpa musibah, tetapi tidak boleh dijadikan alasan berbuat dosa. Orang yang bermaksiat wajib bertaubat.
Buah iman kepada takdir
- Tenang dan sabar saat musibah, tidak sombong saat mendapat nikmat, merasa cukup dengan pembagian Allah, berani dalam kebenaran, tidak takut ancaman makhluk, dan selalu kembali kepada Allah.
Dalil pokok
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.”
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya itu mudah bagi Allah.”
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.”
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Dan kalian tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali bila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Hadits “beramallah, karena setiap orang dimudahkan”: HR. Al-Bukhari no. 4666 dan Muslim no. 2647.
Kesalahan yang sering terjadi
- “Kalau sudah takdir, buat apa berdoa dan berobat?” Koreksi: doa dan ikhtiar adalah sebab yang juga ditakdirkan; meninggalkannya karena alasan takdir adalah salah paham.
- Berdalih takdir atas maksiat, misalnya “memang sudah takdir saya begini”. Koreksi: tidak ada yang tahu takdirnya sebelum terjadi; Allah memberi pilihan dan memerintahkan taubat.
- Menjelaskan takdir dengan analogi guru yang sekadar tahu nilai muridnya atau pelatih yang hanya memberi pilihan taktik. Koreksi: analogi itu meniadakan kehendak dan penciptaan Allah atas perbuatan hamba.
- Memprotes takdir dengan “mengapa Allah begini kepadaku?”. Koreksi: Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat (QS. Al-Anbiya’: 23); hamba bersabar dan berprasangka baik kepada-Nya.
Rujukan
- Al-Irsyad ila Shahih Al-I’tiqad, Syaikh Shalih Al-Fauzan.
- Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, Syaikh Shalih Al-Fauzan.
- Syarh Ushul Al-Iman, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
- Ad-Da’ wad Dawa’, Imam Ibnul Qayyim.
Sumber rangkuman
- Memahami Takdir Allâh Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Almanhaj.or.id
- Iman Kepada Qadar (Takdir) Baik dan Buruk, Almanhaj.or.id
- Buah Keimanan Kepada Takdir, Almanhaj.or.id
- Analogi Keliru Tentang Takdir yang Tersebar Di Masyarakat, Firanda.com
- Yang Nilai Baik dan Buruk itu dari Allah, Bukan dari Manusia (Pahami Takdir Selalu Indah), Rumaysho.com
- Mengapa Harus Berdoa Meski Takdir Sudah Tertulis?, Rumaysho.com
- Kisah Nabi Musa dan Khidhir: Pelajaran Besar tentang Ilmu, Sabar, dan Takdir, Rumaysho.com
Pertanyaan pemahaman
Jawab dalam hati dulu, lalu buka jawabannya.
-
Sebutkan empat tingkatan iman kepada takdir.
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Ilmu, penulisan, kehendak, dan penciptaan.
-
Apakah manusia memiliki kehendak?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Ya, ia memiliki kehendak dan kemampuan yang nyata, tetapi berada di bawah kehendak Allah.
-
Bolehkah meninggalkan doa karena takdir sudah tertulis?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Tidak; doa termasuk sebab yang dengannya takdir terwujud.
-
Kapan takdir boleh dijadikan alasan?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Saat menghadapi musibah, bukan untuk membenarkan dosa.
-
Di mana letak keburukan dalam “takdir yang buruk”?
Lihat jawabanSembunyikan jawaban
Pada sesuatu yang ditakdirkan, bukan pada perbuatan Allah menakdirkan yang selalu mengandung hikmah.
Tanya tentang modul ini
AI menyusun jawaban dari isi halaman ini dan fatwa yang tersimpan di situs, dengan nomor sumber di setiap hukum dan dalil. Bila sumbernya tidak ada, AI tidak menjawab.
Bacaan lanjutan
- Apakah Boleh Menceritakan Aib Masa Lalu dan Bagaimana Cara Ikhlas Menerima Takdir serta Melupakan Kejadian Kelam? Dewan Fatwa
- Tsalatsatul Ushul: Penjelasan Ringkas Rukun Islam dan Rukun Iman Rumaysho.com
- Mengenal Rukun Iman Almanhaj.or.id
- Safinatun Naja: Mukadimah, Rukun Islam, Rukun Iman, Syahadat Rumaysho.com
Cari pembahasan lain tentang “takdir” di Dewan Fatwa, Rumaysho.com, Almanhaj.or.id, Firanda.com, Hadits Tazkia dan Salik.in.